Juni 24, 2021
Leluhur Sosial Media Friendster

Leluhur Sosial Media Friendster Sempat Berjaya Di Masa Lampau

Leluhur sosial media Friendster pernah menguasai mesin pencarian manakala kalian hendak mencari situs santai dan ringan untuk berbincang bersama teman. Sekumpulan peneliti jaringan internet tertarik untuk membedah kasus ini dan membongkar semua berkas mengenai Friendster sekitar satu dekade silam.

Apa sebenarnya penyebab Friendster sampai mengalami kemunduran yang begitu memalukan padahal ia sempat mencapai puncak kejayaan? Bagaimana tidak, dalam tempo singkat sebuah anak baru yang masih bau kencur tiba – tiba bergabung ke permainan dan menghancurkan ekosistem Friendster selamanya.

sempat berjaya kini friendster ditinggalkan penggunanya

Apabila anda penasaran dan mencari kata kunci Friendster di search engine Google, maka kalian akan menemukan sebuah situs layanan game casual. Ia kini telah beralih dari sebuah raksasa jejaring sosial menjadi penyedia game kelas ketiga dengan markas pusat di kota Kuala Lumpur, negara Malaysia.

Jauh sebelum Friendster menjual kepemilikannya, ia menyediakan fitur yang memungkinkan siapapun bercengkrama dengan sesama user. Seperti sosmed pada umumnya seperti zaman sekarang, kala itu netizen Friendster sudah terbiasa membagikan konten kepada daftar teman di kolom kontaknya.

Website Friendster terbesar dan terpopuler dulunya sering dipakai oleh para jomblo kesepian untuk mengadu nasib mencari belahan jiwa. Kita juga bisa sharing tentang kegemaran serupa seperti misalnya preferensi musik maupun klub sepak bola favorit dengan teman, sahabat, hingga orang asing sekalipun.

Leluhur Sosial Media Friendster Kini Tinggal Kenangan

Sekitar lima belas tahun lalu, leluhur sosial media Friendster telah mulai lebih dulu dalam menciptakan kebiasaan saling berbagi terhadap sesama. User bisa bercanda di kolom komentar alias testimonial, foto terbaru, berkirim pesan tulisan maupun video selama anda sanggup menunggu puluhan menit menguploadnya.

Kembali ke masa sekarang, kita telah melihat bagaimana perubahan Friendster yang tadinya perusahaan start up ternama kini tinggal kenangan. Pemiliknya memutuskan untuk mengganti fungsinya menjadi platform permainan kasual tepat bulan Juni 2011 lalu, dan masih meraup user sejumlah kurang lebih 115 juta. Kondisi tersebut sangat berbeda jauh dengan perjalanan panjang Youtube yang bernasib serupa, namun Google tetap mempertahankan fungsi seperti tujuan awalnya.

friendster harus takluk pada keperkasaan facebook

Seratus juta user adalah jumlah yang cukup besar dan tidak main – main untuk sebuah website yang sempat ganti baju dan terbuang dari pertarungannya sendiri. Friendster sekarang memusatkan layanannya untuk tiga negara Asia Tenggara, yaitu Singapura, Malaysia, serta Filipina sehingga lebih dari sembilan puluh persen pengunjungnya datang dari sana.

Kembali ke tahun 2008, pada saat itu Friendster sempat menerima kunjungan yang berasal dari berbagai negara seluruh dunia. Jenis benderanya jauh lebih bervariatif dan diversifikasinya berjalan dengan lancar, sebab memang waktu itu banyak orang suka memakai Friendster.

Sebagian besar Asia Tengah pun juga menyukai platform jejaring sosial paling terkenal pada masa keemasannya sebelum Facebook menyerang. Beberapa pengunjung terbesar yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Korea Selatan, Pakistan, Saudi Arabia, Bangladesh, Sudan, hingga India.

Pernah Menerima Gelar Sebagai Website Jejaring Sosial Termahal

Leluhur sosial media Friendster begitu fenomenal sehingga ia sempat dijuluki sebagai raksasa jejaring sosial dengan nilai bayaran termahal. Saking populernya, owner Friendster sempat dihubungi oleh pihak Google yang ingin membelinya kontan dengan nilai fantastis bahkan untuk sekarang ini yaitu sekitar US $30 juta.

Sang owner yang jumawa dan merasa di atas angin dengan angkuhnya menolak tawaran tersebut karena ia yakin bisa mengelolanya sendiri. Benar saja, pada akhirnya keputusan itu menjadi senjata makan tuan manakala lima tahun kemudian Facebook si pemain baru langsung melesat mengejar ketertinggalannya.

friendster menolak tawaran google senilai 30 juta dolar AS

Mark Zuckeberg jeli melihat celah kecacatan pada Friendster, yaitu ketidak mampuannya mengatasi masalah teknis dengan sigap dan fast response. Berkat kegesitannya, Facebook sudah mendominasi pasar Amerika Serikat bahkan semenjak awal tahun 2006 sehingga Mark memutuskan untuk berekspansi ke benua lainnya.

Friendster makin berjalan terseok – seok karena tidak sanggup menahan gempuran Facebook yang menjalar begitu cepat memborbardir dari segala arah. Keadaan semakin diperparah dengan adanya serangan nyata dari para hacker yang menyebabkan situs Friendster hancur kacau balau tampilannya pada 2009.

Fitur suggestion Friendster mengalami kecacatan pada programnya sehingga mengakibatkan banyak orang tidak dikenal saling berteman secara acak. Keadaan ini membuat user menjadi jengah dan enggan untuk melanjutkan kunjungannya di Friendster sehingga perlahan mulai ditinggalkan secara tertib dan teratur.